Wednesday, September 4, 2019

Contoh Soal Pilihan Ganda dan Essay Pemasaran Online



1.    Basis data yang mempunyai kemampuan menyimpan nama adalah...
a.      Body
b.      Footer
c.       Personalisasi ucapan
d.      Header
e.      Subyek line

2.    Pemasaran menggunakan surat elektronik biasanya dikemas dalam bentuk...
a.      E-mail marketing
b.      Newsletter
c.       E-mail
d.      Web
e.      Gmail

3.    Spam email pertama kali ditemukan pada tahun...
a.      1970                 d. 1978
b.      1969                 e. 1980
c.       1960

4.    Bagian surat elektronik yang membuat bagian isi surat elektronik adalah...
a.      Subyek line
b.      Body
c.       Footer
d.      Header
e.      Personalisasi ucapan

5.    Dalam surat elektronik yang harus dihindari adalah...
a.      Penggunaan huruf kapital
b.      Penggunaan EYD yang tepat
c.       Huruf yang sesuai font
d.      Tidak menggunakan kata test
e.      Penambahan alt pada image

6.    Bagian header untuk membalas adalah...
a.      To                                 d. undo
b.      From                             e. Reply
c.       And

7.    Bagian terpenting dari footer adalah...
a.      Link unsubscribe
b.      Link eCommerce
c.       SEO
d.      Body
e.      Fitur

8.    Di bawah ini yang merupakan salah satu bentuk email promotion adalah...
a.      Newsletter        d. Email
b.      Nawala             e. Link
c.       Diskon

9.    Bagian yang harus dihindari dari subyek line adalah...
a.      To                     d. Reply
b.      $                       e. And
c.       From

10.    Surat elektronik yang dikirim ke konsumen dapat berupa...
a.      Link                 d. E-mail
b.      HTML             e. Web
c.       Image

11.    Penulisan yang benar dalam etika surat elektronik adalah...
a.      Iyupzzzz
b.      Apa kabar
c.       4p4 k4b4r
d.      Ocee
e.      Maksoed loe

12.    Dalam membuat perencanaan surat elektronik dapat digunakan...
a.      5W                  d. 1W5H
b.      5W2H             e. 5W3H
c.       5W1H

13.    Konten surat elektronik dapat berisikan...
a.      Bisnis
b.      Tutorial makeup
c.       Penelitian
d.      Sciens
e.      Diskon

14.    Lebar surat elektronik yang ideal adalah...
a.      600px
b.      700px
c.       800px
d.      900px
e.      1000px

15.    Record yang terdapat dalam table konsumen adalah...
a.      Tempat tanggal lahir
b.      Usia
c.       Status
d.      Kodepos
e.      Foto diri

16.    Di bawah ini yang merupakan tujuan dari surat elektronik promosi adalah...
a.      Openrate
b.      Click through rate
c.       Database growth
d.      Number of social shares
e.      Pengguna mengunduh whitepaper

17.    Server penyedia layanan surat elektronik disebut juga...
a.      HTML             d. SEO
b.      ISP                  e. LINK
c.       ESP

18.    Layout desain siap pakai yang dapat digunakan untuk surat elektronik disebut...
a.      Newsletter
b.      ESP
c.       ISP
d.      Template
e.      Template surat elektronik

19.    Desain yang harus terdapat dalam surat elektronik ialah...
a.      Image
b.      Fitur
c.       Database
d.      Call to action
e.      Body

20.    Berikut adalah alasan mengapa surat elektronik banyak digunakan adalah...
a.      Cepat dan sederhana
b.      Memakan waktu cukup lama
c.       Biaya mahal
d.      Mengikuti gaya hidup
e.      Agar tidak ketinggalan zaman



ESSAY !

1.      Sebutkan 3 kelebihan penggunaan email dibanding surat biasa !
2.      Bagaimana cara menjaring data konsumen tanpa melanggar hukum yang berlaku !
3.      Jelaskan yang dimaksud email marketing !
4.      Jelaskan yang dimaksud dengan preheader !
5.      Sebutkan 3 macam email !

JAWABAN
1.      Nyaman, waktu pengiriman dan balasan sangat cepat, biaya murah, menghemat berbagai sumber daya, lebih aman, area cakupan sangat global dan mendunia.
2.      Lewat sosial media, lewat acara offline, pembeli produk kita, rutin mengirimkan email ke subscriber, menggunakan form di website.
3.      Email marketing adalah pemasaran langsung dengan mengirimkan pesan komersial untuk sekelompok orang menggunakan email.
4.      Preheader adalah satu atau dua baris teks yang ditampilkan di bagian atas surat elektronik.
5.      E-mail berbasis SMTP/POP, email berbasis Web, email forwading.

Fungsi dan Tujuan Kemasan Menurut Para Ahli

Pengertian Kemasan

Kotler & Keller (2009:27), pengemasan adalah kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk. Pengemasan adalah aktivitas merancang dan memproduksi kemasan atau pembungkus untuk produk. Biasanya fungsi utama dari kemasan adalah untuk menjaga produk. Namun, sekarang kemasan menjadi faktor yang cukup penting sebagai alat pemasaran (Rangkuti, 2010:132).

Fungsi Kemasan
Simamora (2007) mengemukakan pengemasan mempunyai dua fungsi yaitu:
1. Fungsi Protektif Berkenaan dengan proteksi produk, perbedaan iklim, prasarana transportasi, dan saluran distribusi yang semua berimbas pada pengemasan. Dengan pengemasan protektif, para konsumen tidak perlu harus menanggung risiko pembelian produk rusak atau cacat.
2. Fungsi Promosional Peran kemasan pada umumnya dibatasi pada perlindungan produk. Namun kemasan juga digunakan sebagai sarana promosional. Menyangkut promosi, perusahaan mempertimbangkan preferensi konsumen menyangkut warna, ukuran, dan penampilan.
 
Sedangkan menurut Kotler (1999:228), terdapat empat fungsi kemasan sebagai satu alat pemasaran, yaitu :
  • Self service. Kemasan semakin berfungsi lebih banyak lagi dalam proses penjualan, dimana kemasan harus menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi kesan menyeluruh yang mendukung produk. 
  • Consumer offluence. Konsumen bersedia membayar lebih mahal bagi kemudahan, penampilan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik.
  • Company and brand image. Perusahaan mengenal baik kekuatan yang dikandung dari kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mempercepat konsumen mengenali perusahaan atau merek produk.
  • Inovational opportunity. Cara kemasan yang inovatif akan bermanfaat bagi konsumen dan juga memberi keuntungan bagi produsen.
Tujuan Kemasan
Menurut Louw dan Kimber (2007), kemasan dan pelabelan kemasan mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
  • Physical Production. Melindungi objek dari suhu, getaran, guncangan, tekanan dan sebagainya.
  • Barrier Protection. Melindungi dari hambatan oksigen uap air, debu, dan sebagainya.
  • Containment or Agglomeration. Benda-benda kecil biasanya dikelompokkan bersama dalam satu paket untuk efisiensi transportasi dan penanganan.
  • Information Transmission. Informasi tentang cara menggunakan transportasi, daur ulang, atau membuang paket produk yang sering terdapat pada kemasan atau label.
  • Reducing Theft. Kemasan yang tidak dapat ditutup kembali atau akan rusak secara fisik (menunjukkan tanda-tanda pembukaan) sangat membantu dalam pencegahan pencurian. Paket juga termasuk memberikan kesempatan sebagai perangkat anti-pencurian.
  • Convenience. Fitur yang menambah kenyamanan dalam distribusi, penanganan, penjualan, tampilan, pembukaan, kembali penutup, penggunaan dan digunakan kembali.
  • Marketing. Kemasan dan label dapat digunakan oleh pemasar untuk mendorong calon pembeli untuk membeli produk.
 

Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Permintaan

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tingkat Permintaan (Demand) :
  • Harga substitusi (pengganti)
Harga barang dan jasa pengganti (substitusi) ikut memengaruhi jumlah barang dan jasa yang diminta. Apabila harga dari barang substitusi lebih murah maka orang akan beralih pada barang substitusi tersebut. Akan tetapi jika harga barang substitusi naik maka orang akan tetap menggunakan barang yang semula. Contohnya kaus adalah pengganti kemeja. Jika di pasar harga kaus lebih murah dibandingkan kemeja, maka permintaan akan kaus lebih banyak bila dibandingkan permintaan terhadap kemeja.
  • Harga barang komplementer (pelengkap)
Barang pelengkap juga dapat memengaruhi permintaan barang/jasa. Misalnya sepeda motor, barang komplementernya bensin. Apabila harga bensin naik, maka kecenderungan orang untuk membeli sepeda motor akan turun, begitu juga sebaliknya.
  • Jumlah Pendapatan
Besar kecilnya pendapatan yang diperoleh seseorang turut menentukan besarnya permintaan akan barang dan jasa. Apabila pendapatan yang diperoleh tinggi maka permintaan akan barang dan jasa juga semakin tinggi. Sebaliknya jika pendapatannya turun, maka kemampuan untuk membeli barang juga akan turun. Akibatnya jumlah barang akan semakin turun. Misalnya pendapatan Ibu Tia dari hasil dagang minggu pertama Rp200.000,00 hanya dapat untuk membeli kopi 20 kg. Tetapi ketika hasil dagang minggu kedua Rp400.000,00, Ibu Tia dapat membeli kopi sebanyak 40 kg.
  • Selera konsumen
Selera konsumen terhadap barang dan jasa dapat memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika selera konsumen terhadap barang tertentu meningkat maka permintaan terhadap barang tersebut akan meningkat pula. Misalnya, sekarang ini banyak orang yang mencari hand phone yang dilengkapi fasilitas musik dan game, karena selera konsumen akan barang tersebut tinggi maka permintaan akan hand phone yang dilengkapi musik dan game akan meningkat.
  • Intensitas kebutuhan konsumen
Intensitas kebutuhan konsumen berpengaruh terhadap jumlah barang yang diminta. Kebutuhan terhadap suatu barang atau jasa yang tidak mendesak, akan menyebabkan permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa tersebut rendah. Sebaliknya jika kebutuhan terhadap barang atau jasa sangat mendesak maka permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa tersebut menjadi meningkat, misalnya dengan meningkatnya curah hujan maka intensitas kebutuhan akan jas hujan semakin meningkat. Konsumen akan bersedia membeli jas hujan hingga Rp25.000,00 walaupun kenyataannya harga jas hujan Rp15.000,00.
  • Perkiraan harga pada masa depan
Apabila konsumen memperkirakan bahwa harga akan naik maka konsumen cenderung menambah jumlah barang yang dibeli karena ada kekhawatiran harga akan semakin mahal. Sebaliknya apabila konsumen memperkirakan bahwa harga akan turun, maka konsumen cenderung mengurangi jumlah barang yang dibeli. Misalnya ada dugaan kenaikan harga bahan bakar minyak mengakibatkan banyak konsumen antri di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) untuk mendapatkan bensin atau solar yang lebih banyak.
  • Jumlah penduduk
 Pertambahan penduduk akan memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika jumlah penduduk  dalam suatu wilayah bertambah banyak, maka barang yang diminta akan meningkat.

Faktor Penentu Elastisitas Permintaan

Faktor-faktor penentu elastisitas permintaan antara lain :


1. Jumlah barang subtitusi yang tersedia di pasar
        Suatu barang yang memiliki barang substitusi yang banyak akan memiliki permintaanyang elastis. Jika P naik, maka permintaan menurun dengan % yang lebih besar, karena konsumen akan membeli barang substitusi dan sebaliknya. Suatu barang yang tidak memiliki barang substitusi (sedikit) akan memiliki permintaanyang tidak elastis. Perubahan harga tidak membawa dampak terhadap penurunan/kenaikan permintaan barang, karena pasar tidak menyediakan barang substitusi bagi konsumen.

2. Potensi pendapatan yang dibelanjakan
           Semakin besar bagian pendapatan yang digunakan untuk membeli suatu barang, maka semakin elastis permintaan terhadap barang tersebut.

3. Jangka waktu analisis permintaan
            Analisis permintaan terhadap suatu barang dalam jangka waktu yang relatif lama menjadikan permintaan terhadap barang tersebut bersifat elatis, karena pasar mengalami perubahan dalam waktu yang relatif lama. Analisis permintaan terhadap suatu barang dalam jangka waktu yang relatif singkat menjadikan permintaan terhadap barang tersebut bersifat tidak elatis, karena pasar sulit mengalami perubahan dalam waktu yang relatif pendek.

Wednesday, July 31, 2019

Tipe Lokasi Untuk Mendirikan Ritel

        3 tipe lokasi dasar yang dapat dipilih oleh ritel, yaitu:
a. Shopping Centers (Pusat Belanja)
       Shopping Centers merupakan grup ritel dan bisnis lain yang direncanakan, dibangun, dimiliki dan dikelola sebagai satu kepemilikan
b. City or Town Location (Ritel di Kota Besar)
        The Central Business District merupakan area bisnis tradisional yang berada dikeramaian kota dalam suatu kota besar CBD yang sukses adalah yang dekat dengan area yang berpenduduk besar
c. Freestanding Location
        Merupakan lokasi yang tidak terhubung dengan ritel yang lain, sekalipun banyak yang lokasinya dekat dengan mall.
         Selain tiga lokasi utama tersebut, ritel juga dapat didirikan dan dijalankan dengan memilih lokasi sebagai berikut:
a. Airport
b. Resort
c. RumahSakit
d. Toko dalam toko
e. Area serbaguna

Inovasi dan Perkembangan Teknologi dalam Bisnis Ritel


a.      Pasar Domestik yang melemah
Ritel semakin popular setelah masuknya peritel asing ke negeri ini seperti Indomart dan Alfamart yang berdiri di setiap pinggiran jalan hanya berjarak beberapa ratus meter saja khususnya diwilayah Indonesia bagian barat. Perilaku masuknya peritel asing membuat peritel tradisional menjadi kolaps tak berdaya.Apalagi kebanyakan peritel tradisional hanya memiliki ketrampilan yang minim karena usahanya hanya dijalankan secara turun temurun saja.
b.      Meningkatnya keahlian industri
Pada perusahaan Ritel posisi perusahaan dapat dibangun pada beberapa area seperti akutansi, promosi, tehnologi informasi, distribusi dan sumber daya manusia. Bisnis ritel memerlukan berbagai ketrampilan dalam penguasaaan sistim manajemen.
c.       Kemajuan ilmu pengetahuan dan Tehnologi
Menurut Alfin Tofler dikatakan semua kegiatan bisnis berpondasikan kekuatan sumber daya manusia dan bukan semata mata hanya sumber daya alamnya saja.

Prinsip Bisnis Ritel

             Prinsip dasar pada ritel modern yang terdiri dari 4 P:
a. Product (Produk)
Produk menurut Kotler and Armstrong (2001) adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau dikomsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Menurut Porter (1996), keunggulan suatu produk agar dapat diterima dan bertahan dipasar ditentukan oleh ciri khas atau keunikan produk tersebut dibandingkan dengan produk yang lain yang ada dipasar (Porter, 1996).
Kualitas produk merupakan pemahaman bahwa produk yang ditawarkan oleh penjual mempunyai nilai jual lebih yang tidak dimiliki oleh produk pesaing. Oleh karena itu perusahaan berusaha memfokuskan pada kualitas prodak dan membandingkannya dengan produk yang ditawarkan oleh perusahaan pesaing.

b. Price (Harga)
Strategi dalam penetapan harga bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya : Harga bundling, harga predatory, harga berbasis kompetisi, harga cost plus, harga berorientasi pasar, harga premium, harga psikologis, harga dinamis (Kotler and Armstrong, 2010). Ada tiga pihak yang menjadi dasar pertimbangan dalam penetapan harga oleh sebuah perusahaan ritel yaitu konsumen, dirinya sendiri, dan pesaing.
        Menurut Ma’ruf (2005) , impementasi strategi harga antara lain :
1. Penetapan harga secara tetap untuk periode waktu tertentu dan harga yang ditetapkan secara variatif sesuai fluktuasi tingkat permintaan konsumen.
2. Penetapan harga ganjil, seperti Rp. 99.000, Rp. 199.000, Rp. 749.000 Menurut Ma’ruf (2005), impementasi strategi harga antara lain :
3. Penetapan harga secara tetap untuk periode waktu tertentu dan harga yang ditetapkan secara variatif sesuai fluktuasi tingkat permintaan konsumen.
4. Penetapan harga ganjil, seperti Rp. 99.000, Rp. 199.000, Rp. 749.000
5. Leader pricing, penetapan harga dimana profit marginnya lebih rendah daripadatingkat yang biasa diraih bertujuan untuk menarik konsumen yang lebih banyak.
6. Penetapan harga paket, yaitu harga yang didiskon untuk penjualan lebih dari satu unit per itemnya.
7. Harga bertingkat, ini diberlakukan untuk produk yang mempunyai banyak model dan harga yang beragam.

c. Promotion (Promosi)
Menurut Philip Kotler (1997, p.153) proses keputusan pembelian dipengaruhi oleh rangsangan pemasaran dan rangsangan lain. Bauran promosi yang meliputi periklanan (advertising), penjualan pribadi (personal selling), hubungan masyarakat (public relation) dan publisitas(publicity), promosi penjualan (sales promotion), dan pemasaran langsung (direct marketing) adalah bagian dari rangsangan pemasaran yang merupakan variabel yang dapat dikontrol oleh perusahaan.
Menurut Schoell (1993, p.424), Tujuan promosi adalah memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan, dan meyakinkan.
       Jenis kegiatan promosi diatas :
a. Periklanan (Advertising), yaitu bentuk promosi non personal dengan menggunakan berbagai media yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
b. Penjualan Tatap Muka (Personal Selling), yaitu bentuk promosi secara personal dengan presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan calon pembeli yang ditujukan untuk merangsang pembelian atau kegiatan mempromosikan suatu produk dengan cara mendatangi ke tempat konsumen berada, oleh seorang wiraniaga/salesperson.
c. Publisitas (Publisity), yaitu suatu bentuk promosi non personal mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan mengulas informasi/berita tentangnya (pada umumnya bersifat ilmiah) atau merupakan usaha untuk merangsang permintaan dari suatu produk secara non personal yang bersifat komersial.
d. Promosi Penjualan (Sales Promotion), yaitu suatu bentuk promosi diluar ketiga bentuk diatas yang ditujukan untuk merangsang pembelian.

d. Place (Lokasi)
Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses menjadikan barang dan jasa siap digunakan atau dikomsumsi (Kotler, 2002). Menurut Losch, Lokasi penjualan sangat berpengaruh lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh dari tempat penjual, konsumen makin malas membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin mahal. Losch cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada dipasar atau dekat dengan pasar.

Pengertian dan Jenis Transaksi dalam E-commerce Menurut Ahli

      Menurut E. Turban, David K, J. Lee, T. Liang, D. Turban (2012,p38), Perdagangan elektronik (electronic commerce, disingkat EC, atau e-commerce) mencangkup proses pembelian, penjualan, transfer, atau pertukaran produk, layanan atau informasi melalui jaringan komputer, termasuk internet. Beberapa orang memandang istilah perdagangan (e-commerce) hanya untuk menjelaskan transaksi yang dapat dilakukan antar mitra bisnis.
         Menurut E. Turban, David K, J. Lee, T. Liang, D. Turban (2012,pp42- 43), e-commerce dapat dilakukan berbagai pihak, Jenis umum dari transaksi ecommerce dijelaskan di bawah ini.
1. Bisnis ke bisnis (bussines-to-bussines—B2B)
         Dalam transaksi b2b, baik penjual maupun pembeli adalah organisasi bisnis. Kebanyakan dari EC adalah jenis ini.
2. Perdagangan kolaborasi (collaborative--c-commerce)
          Dalam c-commerce para mitra bisnis berkolaborasi (alih – alih membeli atau menjual) secara elektronik. Kolaborasi semacam ini seringkali terjadi antara dan dalam mitra bisnis di sepanjang rantai pasokan.
3. Bisnis ke konsumen (bussines-to-consumer—B2C)
            Dalam B2C, penjual adalah perusahaan dan pembeli adalah perorangan. B2C disebut juga e-tailing.
4. Konsumen-ke-konsumen (consumer-to-consumer—C2C)
           Dalam C2C, seorang menjual produk ke orang lain. (Anda juga) dapat melihat C2C digunakan sebagai “customer-to-customer” (pelanggan ke pelanggan). Kedua istilah ini dapat dianggap sama, dan keduanya akan digunakan untuk menjelaskan orang – orang yang menjual produk dan jasa ke satu sama lain.
5. Konsumen-ke-bisnis (consumer-to-bussines—C2B)
         Dalam C2B, konsumen memberitahukan kebutuhan atas produk atau jasa tertentu, dan para pemasok bersaing untuk menuediakan produk atau jasa tersebut ke konsumen, Contohnya di Priceline.com, di mana pelanggan menyebutkan produk dan harga yang diinginkan, dan Priceline mencoba untuk menemukan pemasok yang memenuhi kebutuhan tersebut.
6. Perdagangan intrabisnis (intraorganisasional)
          Dalam situasi ini perusahaan menggunakan EC secara internal untuk memperbaiki operasinya, Kondisi khusus dalam hal ini disebut juga sebagai EC B2E (business-to-its-employees).
7. Pemerintah-ke-warga(government-tocitizen—G2C)
       Dalam kondisi ini sebuah entitas (unit) pemerintah menyediakan layanan ke para warganya melalui teknologi EC. Unit-unit pemerintah dapat melakukan bisnis dengan berbagai unit pemerintah lainnya serta dengan berbagai perusahaan (G2B).
8. Perdagangan mobile (mobile commerce—m-commerce)
           Ketika e-commerce dilakukan dalam lingkungan nirkabel, seperti dengan menggunakan telepon seluler untuk mengakses internet dan berbelanja, maka hal ini disebut m-commerce.

Format Bisnis Ritel Di Indonesia


       Format Bisnis Ritel Di Indonesia
       Menurut Asep ST Sujana (2005:16) mengklasifikasikan tipe bisnis ritel berdasarkan:
                  a. Ownership (kepemilikan bisnis),
§  Single-store Retailer; merupakan tipe binis retail yang paling banyak jumlahnya dengan ukuran toko umumnya dibawah 100 m2 mulai dari kios atau toko dipasar tradisional sampai dengan minimarket modern; dengan kepemilikan secara individual.
§  Toko Retail; adalah toko retail dengan banyak (lebih dari satu) cabang dan biasanya dimiliki oleh institusi bisnis bukan perorangan.melainkan dalam bentuk perorangan (company owned retail chain).Bentuknya mulai dari rantai toko minimarket sampai dengan mega hyperstore.contoh nyata yang umum adalah seperti Hero Supermarket, Sogo, Dept,Store & Supermarket, Matahari, Ramayana, dan sebagainya.
§  Toko Waralaba (Franchise Stores); adalah toko retail yang di bangun berdasarkan kontrak kerja waralaba (bagi hasil)antara terwaralaba (franchisee) yakni pengusaha investor perseorangan (independent business person)dengan pewaralaba (franchisor)yang merupakan pemegang lisen bendera/nama toko,sponsor,dan pengelola usaha)

b. Merchandise category (kategori barang dagangan),
§  Special store (Toko Khas) merupakan toko retail yang menjual satu jenis kategori barang atau suatu rentang kategori barang (merchandise category) yang relatif sempit/art-shop (pasar seni), jewelry store (toko perhiasan),toko buku,dan sebagainya.
§  Grocery store (Toko Serba Ada, Toserba) merupakan toko ritel yang menjual sebagian besar kategori barangya adalah barang groceries (kebutuhan sehari-hari; freshfood perishable, dry-food ,beverages, cleanings dan cosmetics,serta household items.Umumya toko retail modern yang sudah mapan adalah berbasis sebagai grocery retailers di mana mereka jual lebih dari 60% dari assortment (bauran produk) adalah merupakan kebutuhan pokok (basic needs)harian pribadi, keluarga,atau rumah tangga.contohya Carrefour,Makro,Hero,Lion Superindo, dan tip top
§  Department Store sebagian besar dari assortments yang di jual adalah merupakan non-basic items (bukan kebutuhan pokok), fashionables,dan branded items(bermerek) dengan lebih dari 80%(konsinyasi). Contohya,Ramayana,Borobudur,Sogo,Dept store, Matahari galleria dan Pasaraya
§  Hyperstore menjual barang-barang dalam rentang kategori barang yang sangat luas.menjual hampir semua jenis barang kebutuhan setiap lapisan konsumen,mulai dari barang grocery,household,textile,appliance,optical dan lainnya dengan konsep one-stop-shopping (everything-in-oneroof),bahkan ganti oli, dang anti ban mobil dapat di layani di dalam toko ritel sejenis ini.paling tidak di butuhkan sedikitya 10.000 m persegi luasan sales area.toko-toko retail di Indonesia tampakya belum ada yang dapat dikategorikan dalam tipe hyperstore,bahkan Carrefour sekalipun.Meskipun di negarya (Perancis), Carrefour juga telah mengoperasikan model ini.

c. Luas sales area (area pejualan),
§   Small Store/Kiosk;sebuah toko kecil (kios) yang umumnya merupakan toko ritel traditional,dioperasikan sebagai usaha kecil dengan sales area dari 100 m2
§   Minimarket;dioperasikan dengan luasn sales area antara 100 sampai dengan 1.000 m2.
§   Supermarket;dioperasikan dengan luasan sales area antara 1.000 sampai dengan 5.000 m2.
§   Hypermarket;dioperasikan dengan luasan sales area lebih dari 5.000 m2

d. Non-store retailer (retailer tanpa toko).
o  Multi-Level-Marketing (MLM); adalah suatu model penjualan barang secara langsung (direct selling) dengan system komisi penjualan berperingkat berdasarkan status keanggotaan dalam distribution lines (jalur atau peringkat distribusi).Kemudian karena marketing policy-nya untuk tidak melakukan above the line promotion (advertising) dan tidak di perbolehkannya marketing budget-nya di kompensasikan ke dalam bentuk Point Value (PV) dan Benerfit Value (BV) bagi para direct distributor.Contoh nyata model ini adalah Amway,CNI, dan lain-lain
o  Mail & Phone Order Retailer; bentuk lain dari non-store retailer adalah Mail & Phone Order Retailer atau bisa di sebut sebagai “ toko pesan antar “,yakni perusahaan yang melakukan penjualan berdasarkan pesanan melalui surat dan atau telepon .Contoh dari model non-store retailer in,antara lain TV Media DRTV, dan sebagaiya.dalamperkembangannya.contoh retailer tipe inipun tidak lagi murni non-store retailer dengan di bukanya showroom-showroom (konter) di hampir seluruh kota besar.
o  Internet/Online Store (e-Commerce);perkembangan teknologi informasi khususnya internet,telah memukinkan berkembangnya “toko retail” di dunia maya.Adopsi teknologi internet ke dalam bentuk online retailing (e-tail-ing, e-commerce) begitu memukau sehingga banyak yang gagal karena over-estimate atau over-self-confidence walaupun ada pula yang berhasil seperti Amazon.com,dan Walmart.com.proses follow-up antara lain melalui penyedian pusat layanan informasi dan konsumen,serta system layanan pesan-antar yang memadai

Memahami Bisnis Ritel (Pengelolaan Bisnis Ritel)

Pengertian bisnis

       Bisnis dalam pengertian yang luas yaitu merupakan kegiatan dalam semua aktifitas dalam produksi barang atau jasa. Menurut Griffin (2003) bisnis adalah segala sesuatu yang menyediakan barang atau jasa.Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa biisnis merupakan kegiatan yang didalamnya terdapat beberapa unsur yaitu: penjual, pembeli,dan barang atau jasa.

Jenis- jenis bisnis
       Jenis bisnis dibagi menjadi 3 yaitu :
a. Production (Produksi) merupakan kegiatan dalam menciptakan suatu barang atau jasa.
b. Distribution (Distribusi) merupakan penyaluran barang dari produsen ke konsumen atau dari 
     distributor ke distributor lainnya.
c. Consumer (Konsumen) adalah rantai terakhir dari barang, konsumen sebagai pangguna barang
     atau jasa.

Pengertian ritel
         Ritel merupakan salah satu bisnis dalam pemasaran barang dan jasa yang kegiatannya memecah atau mengecer barang. Dalam bisnis ritel ini target utama yaitu adalah konsumen sebagai pengkon-sumsi barang atau jasa, bukan distributor untuk dijual kembali. Bisnis ritel sudah ada sejak lama dimana dulu hanya dikenal sebagai toko saja, tetapi dengan perkembangan zaman sudah dikenal sebagai bisnis ritel dan yang mempunyai bisnis ini atau pemilik disebut peritel.

Perkembangan bisnis ritel di Indonesia

          Industri ritel dibagi menjadi 3 yaitu :
a) Pasar tradisional
b) Minimarket
c) Supermarket/ hypermarket

Peran bisnis ritel
          Usaha eceran atau usaha ritel mempunyai peran yang sangat penting baik ditinjau dari pihak konsumen atau dari pihak produsen.

Dari Pihak Produsen:
a. Peritel dipandang sebagai pihak yang ahli dalam bidang penjualan produk perusahaan.
b. Peritel adalah ujung tombak peusahaan yang akan sangat menentukan laku tidaknya produk
    perusahaan.
c. Peritel adalah sumber informasi yang sangat berharga mengenai produknya.
d. Hadiah , iklan,dan undian diberikan kepada konsumen dari peritel.

Dari Pihak Konsumen:
Bisnis ritel memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomis bagi konsumen melalui lima cara yaitu:
a. Bisnis ritel biasanya memiliki dekat dengan target dari pasar tersebut, misalnya konsumen
    kebanyakan seperti toko ritel seperti alfamart berada di pemukiman masyarakat.
b. Memberikan kemudahan bagi konsumen karena konsumen cenderung akan memilih bisnis ritel 
    yang menguntungkan bagi mereka.
c. Menetapkan harga yang rendah, bersaing dengan pesaing lainnya agar tidak kehilangan konsumen.
d. Bisnis ritel membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dimana produk yang dijual adalah
    yang dibutuhkan oleh konsumen sehingga semua yang diinginkan daoat dipenuhi oleh peritel.
e. Bisnis ritel juga mendiukung produksi massal, karena merek menunjang angka penjualan dari
    bisnis eceran tersebut.

Fungsi ritel
         Industri ritel memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara, terutama berkaitan dengan proses pendistribusian berbagai macam produk yang dibutuhkan oleh masyarakat, yaitu:
a. Melakukan transaksi jual beli pada tempat yang telah ditentukan sesuai dengan kenyamanan dan
     kemudahan dalam bertransaksi.
b. Peritel memberikan pilihan terhadap konsumen untukmemilih barang yang akan di konsumsi agar
    dapat mencapai kepuoasan puncak konsumen.
c. Peritel tidak hanya mengecer barang per satuan tetapi ada juga yang menjual dengan jumlah
     banyak sehingga dpat didistribusikan kembali.
d. Peritel diharapkan dapat membuat kemasan yang lebih menarik.
e. Menyimpan produk yang diperjualbelikan agar tetap tersedia pada tingkat harga yang relatif
     rendah.
f. Peyaluran produk melalui sistem distribusi.
g. Memberikan layanan yang maksimal seperti purna jual dan keluhan pelanggan.
h. Memberikan fasilitas kredit dan fasilitas sewa.
i. Meningkatkan nilai produk.

Monday, July 8, 2019

Jurnal Abdimas 1

UPAYA PENINGKATAN EFESIENSI BIAYA PRODUKSI UMKM RAJUTAN MELALUI IMPLEMENTASI PURCHASE ORDER PADA SENTRA RAJUT SUMANTRI MARGALUYU KOTA BANDUNG

Abstrak
Perkembangan bisnis rajut di Kota Bandung tidak terlepas dari peran para pengusaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Bandung dikenal sebagai pusat mode Indonesia dan dijuluki Paris Van Java karena memiliki karakteristik serupa dengan Paris. Hal tersebut menuntut para pengusaha khususnya pengrajin bidang rajut memiliki kemampuan, pengetahuan, keahlian dan kompetensi diri dalam menjaga kualitas dan kuantitas dari produk yang dihasilkan sebagai nilai tambah agar dapat bersaing dengan produk dalam maupun luar negeri. Selain itu, para pengrajin rajut harus memahami efesiensi biaya produksi agar bisa memperoleh keuntungan maksimal dan usahanya tidak mengalami kemunduran. Baca selengkapnya pada link berikut:

https://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/index.php/abdimas/article/view/5095